Tuesday, January 18, 2005

Media Indi dan Permasalahannya

Geliat media indi seperti majalah BEN! sebagai salah satu contoh dirasa tidak begitu menggema untuk para komunitas baca. Dapat dimaklumi karena pendistributian media tersebut hanya di outlet-outlet tertentu, itupun dengan pembeli yang sangat sedikit sekali. Bukan bermaksud berlebihan, kalau sebenarnya media indi bisa dikatakan lebih bagus dari pada media yang telah punya nama.

Pada awal berdirinya sekitar akhir 2003, BEN! beranggotakan sekitar dua belas orang, mungkin karena kesibukan diluar yang tidak bisa ditinggalkan menyebabkan mereka angkat kaki satu-persatu, hingga akhirnya sampai saat ini awak BEN! tersisa enam orang. Satu tahun lebih perjalanan BEN! yang terseok-seok karena terus dihadang masalah serta ditinggal para awak ternyata tidak membuatnya mati. Kalau tidak percaya baca saja dan ikuti terus perkembangannya dari edisi ke edisi yang mengalami peningkatan. Walaupun tidak bisa dikatakan bahwa peningkatan tersebut adalah peningkatan yang signifikan, tetapi keberadaan BEN! untuk eksis menghadirkan naskah-naskah yang tidak biasa harus diacungi jempol.

Bekerja dan menulis di media indi banyak suka dukanya dan pengelolaannyapun tergolong susah-susah gampang. Permasalah utama yang sering dihadapi adalah bagaimana mencari naskah diantara teman-teman kami yang sesama mahasiswa. Jangankan mencari naskah yang bermutu, naskah yang teknik penulisannya biasa saja tetap susah dicari. Tapi untunglah dengan segala kerja keras kami, naskah yang sesuai standart BEN! dapat diperoleh dengan susah payah, karena kami harus melobi beberapa orang teman yang pandai menulis jauh-jauh hari sebelum deadline, itupun kami tidak menyediakan honor bagi penulis tersebut. Terkadang beberapa hari sebelum deadline, belum ada naskah yang masuk ke redaksi. Maka dengan sedikit terpaksa kamipun menerbitkan beberapa naskah yang sebenarnya tidak layak muat atau belum memenuhi standart kami. Untunglah kejadian tersebut sangat jarang terjadi, dan semoga tidak terulang lagi.

Terus mengapa bukan awak BEN! sendiri yang menulis naskah? Sebenarnya disinilah inti permasalahannya, karena konstribusi awak sendiri kurang terlihat gregetnya, mungkin karena kesibukan di luar yang menyita waktu sehingga kamipun tak sempat menulis di media milik sendiri. Alasan klasik memang tapi itulah yang terjadi beberapa bulan kebelakang, dan itu bukanlah alasan layak untuk berhenti menulis bukan?

Sampai pada akhirnya sekitar awal November 2004 kami berkeputusan untuk mencari naskah melalui internet. Satu-persatu situs penyair dan penulis cyber kami datangi, disana kami berpromosi tentang BEN! yang begini, begitu dan bla…bla…bla…tidak mudah memang karena terkadang dari lima buah situs yang kami datangi hanya satu saja yang merespon. Hal itu tidak membuat kami patah semangat kerena promosi demi promosi hampir setiap saat kami lakukan, hingga munculah penulis-penulis besar seperti Nanang Suryadi, Arwan Maulana, JJ Kusni dan masih banyak lagi. Kamipun akhirnya lega karena baik naskah untuk cerpen, essai apalagi puisi menumpuk di redaksi. Ternyata masalah tidak berhenti sampai disitu, karena terlalu banyak penulis besar yang mengisi BEN! membuat kami hampir kehilangan idealisme sebagai media pembelajaran. BEN! yang awalnya mempunyai misi sebagai media pembelajaran bagi penulis pemula tiba-tiba bergeser menjadi media bagi penulis-penulis benama. Secara otomatis lahan untuk penulis pemula menjadi berkurang dengan hadirnya para penulis yang sudah bernama. Tidak dapat dipungkiri kami bangga dapat memuat naskah-naskah dari penulis besar, sekaligus sebagai ajang promosi kepada konsumen kalau kami bukanlah media kacangan. Tetapi kami juga mengalami dilemma dengan hal tersebut, keberadaan penulis pemula yang ingin naskahnya diakui dan diterbitkan menjadi sedikit terancam. Untuk menanggulangi masalah tersebut kami berembuk bersama dan diambilah keputusan bahwa kami lebih memprioritaskan para penulis pemula sesuai dengan misi awal BEN!, tetapi kami tetap memuat karya penulis besar sebagai bahan perbandingan. Sebagai contoh dalam satu edisi terdapat lima orang penulis, diantara mereka hanya terdapat satu orang penulis besar, dan lainnya adalah penulis pemula. Adil bukan?
Kendala lain yang tidak boleh diabaikan adalah masalah dana dan distribusi, selama ini perolehan iklan dirasa kurang untuk menutup biaya produksi, oleh karena itu iuran anggota diaikkan menjadi Rp.10.000,- per orang dan harga BEN! dinaikkan menjadi Rp.10.000,- per ekslemparnya. Untuk pendistribusian kami sebenarnya tidak kesulitan mendapat outlet, tetapi minat konsumen yang rendah terkadang membuat mereka komplain karena bereksemplar-eksemplar majalah BEN! menumpuk. Kendalah tersebutlah yang justru membuat kami lebih giat menulis dan berfikir kreatif untuk lebih mensosialisasikan BEN! kepada konsumen.

Kami sadar jalan yang harus dilalui masih begitu panjang dan terjal, tetapi kami sadar bahwa perjuangan belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir. Berbagai peristiwa yang membuat kami jatuh bangun, justru semakin menguatkan tekat dan tujuan, karena dari situlah kami belajar untuk menjadi lebih baik. Kepada pegiat media indi lainnya, teruslah berjuang dan jangan menyerah karena kita tidak berjalan sendirian.

Saya sendiri yang resmi bergabung bersama BEN! terhitung semenjak Mei ’04 tergolong orang yang tidak begitu pandai menulis, kecuali puisi dan beberapa tulisan pendek yang standartnya masih kalah jauh dibanding teman-teman seangkatan di BEN!, seperti Muhammad Ramadhan Batu Bara, Novieta dan Tea-K. Entah kenapa mereka tertarik untuk merekrut saya, pada saat itu saya merasa gamang dan tidak yakin untuk untuk terus jalan di BEN!. disamping kemampuan menulis yang pas-pasan serta suasana kerja yang membosankan membuat saya berfikiran untuk hengkang secepatnya. Tetapi lama-kelamaan keinginan tersebut kikis dan akhirnya padam sama sekali setelah menyelami BEN! lebih dalam. Kalau mau jujur tekat semula saya untuk bergabung di BEN! hanyalah sekedar coba-coba dan untuk mengisi kekosongan dalam hati (ups!!! maaf buat teman-teman BEN! yang membacanya). Tapi disitulah semuanya berubah ketika tekat dan kemauan untuk maju lebih kuat daripada sekedar mengejar ego diri.



Nb: BEN! mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada para penulis yang tentu saja tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.